√ Pengertian Persediaan Barang Menurut Para Ahli & Contohnya

Posted on

Pengertian Persediaan Barang Menurut Para Ahli & Contohnya– Persediaan barang merupakan aset aktiva lancar.

Pengertian Persediaan Barang Menurut Para Ahli & Contohnya

Persediaan barang selalu dimiliki oleh perusahaan. Persediaan barang diperoleh perusahaan dengan cara membeli dan menjualnya kembali tanpa mengubah bentuk barang ataupun dengan mengubahnya.

Pengertian Persediaan Barang

Persediaan barang secara umum diartikan sebagai salah satu jenis aktiva lancar dalam jumlah cukup besar di sebuah perusahaan. Persediaan barang adalah salah satu faktor penting yang menjadi penentu kelancaran operasi perusahaan.

Persediaan merupakan bentuk investasi yang keuntungannya diperoleh dari penjualan barang-barang tersebut. Oleh karena itu, umumnya perusahaan memiliki batas minimal persediaan barangnya masing-masing dan jumlah persediaan tersebut harus dipertahankan agar mampu menjamin stabilitas dan kesinambungan penjualan.

Pengertian Persediaan Barang Menurut Para Ahli

Berikut ini beberapa ahli yang memberikan pendapatnya mengenai pengertian   persediaan barang.

Zaki Badridwan

Zaki Badridwan (2000: 149) menyatakan persediaan barang adalah  persediaan barang yang digunakan untuk menunjukkan barang-barang yang dimiliki agar bisa digunakan untuk memproduksi barang yang akan dijual atau barang yang sudah siap dijual kembali.

John J. Wild

John J. Wild, K. R. Subramanyam dan Robert F. Halsey (2004: 265) mengungkapkan bahwa persediaan barang (inventory) adalah barang-barang yang dijual dalam kegiatan operasionalnormal perusahaan.

Baca Juga:  √ Pengertian Experiential Marketing, Fungsi, Manfaat dan Strategi Experiential Marketing Lengkap

Sofyan Assauri

Mengutip Soffyan Assauri dari buku karya Marihot dan Dearlina Sinaga (2005: 50) persediaan barang yaitu sebuah aktiva lancar yang berupa barang-barang milik perusahaan untuk dijual pada suatu periode usaha normal atau persediaan barang yang masih dalam pengerjaan produksi ataupun persediaan bahan baku yang belum digunakan dalam proses produksi.

Munandar

Munandar dalam buku karya Marihot dan Dearlina Sinaga (2005: 50) memberikan pengertian persediaan barang sebagai bahan-bahan atau barang-barang yang menjadi objek usaha dalam perusahaan.

Jenis-Jenis Persediaan Barang

Menurut R. Agus Sartono (2001: 443) ada beberapa jenis persediaan barang yaitu :

  1. Jenis persediaan barang di perusahaan manufaktur berupa persediaan b arang jadi, persediaan bahan pembantu dan persediaan barang untuk proses persediaan bahan baku.
  2. Jenis persediaan barang di perusahaan jasa berupa persediaan bahan habis pakai atau persediaan bahan pembantu, seperti stempel, kertas karton, materai, buku, tinta dan kwitansi.

Contoh Soal Persediaan Barang

PT Makmur Sentosa tercatat pada Juli 2011 memiliki data mutasi persediaan sebagai berikut.

Juli 1               Persediaan awal 200 kg @ Rp. 500 = Rp. 100.000

Juli 4               Pembelian 300 kg @ Rp. 600 = Rp. 180.000

Juli 7               Penjualan sebanyak 450 kg

Juli 8               Pembelian 700 kg Rp. 800 = Rp. 560.000

Juli 12             Penjualan sebanyak 300 kg

Juli 21             Penjualan sebanyak 500 kg

Juli 24             Pembelian 200 kg @ Rp. 700 = Rp. 140.000

Menurut data di atas, maka hitunglah jumlah persediaan pada tanggal 31 Juli apablia memakai metode :

  1. Identitas Khusus dengan persediaan dari pembelian 4 Juli 600 kg dan 24 juli 170 kg.
  2. Metode Rata-Rata (Average Method)
  3. Metode FIFO
  4. Metode LIFO
  5. Metode Persediaan Dasar apabila persediaan persediaan dasar ditentukan sebesar 200 kg dan harga Rp 800 serta selisih kuantitas persediaan yang ada dengan standar akuntansi keuangan.
Baca Juga:  √ Fungsi Pasar Modal, Produk, Tujuan, Jenis dan Peranannya
Pengertian Persediaan Barang Menurut Para Ahli, Jenis dan Contohnya
Pengertian Persediaan Barang Menurut Para Ahli, Jenis dan Contohnya

Penyelesaiannya

Metode Identifikasi Khusus (Specific Identification)

Metode identifikasi khusus dianggap sebagai metode yang paling baik untuk digunakan dalam menentukan nilai persediaan sebab setiap unit barang yang masuk, digunakan atau dijual serta yang tersisa diidentifikasikan dengan khusus beserta harga belinya.

Kuantitas persediaan = 1.700 kg – 1.150 kg = 550, rinciannya seperti berikut ini :

Pembelian 4 Juli        = 300 kg x Rp. 600 = Rp. 180.000

Pembelian 24 Juli      = 200 kg x Rp 700 = Rp. 140.000

Nilai Persediaan        = Rp. 180.000 + Rp. 140.000 = Rp. 320.000

Metode Rata-Rata (Average) Sederhana

Metode rata-rata (average) memiliki aturan bahwa nilai persediaan akhir akan memberikan hasil nilai yang berada di antara nilai persediaan metode LIFO dan FIFO. Metode rata-rata (average) memiliki imbas terhadap nilai laba kotor dan harga pokok penjualan.

Kuantitas akhir          = Persediaan/ Pembelian – Penjualan

                                    = (200+300+700+200) – (450+300+500)

                                    = 1.400 – 1.250

                                    = 150 kg

Pembelian dilakukan 3 kali, maka diperoleh :

Harga rata-rata         = (Rp. 600+Rp. 700+Rp. 200) : 3

                                    = Rp. 1.500 : 3

                                    = Rp. 500

Nilai Persediaan        = 200 kg x Rp. 500

                                    = Rp. 100.000

Metode First In First Out (FIFO)

Metode First In First Out (FIFO) atau masuk pertama keluar pertama berprinsip bahwa persediaan barang dengan nilai perolehan yang pertama masuk akan digunakan atau dijual lebih dulu. Dengan begitu, persediaan akhir dihitung dengan memasukkan nilai perolehan persediaan yang masuk terkahir atau dibeli.

Kuantitas persediaan akhir  900 kg dengan rincian :

Pembelian 24 Juli      = 200 kg x Rp. 700 = Rp. 140.000

Pembelian 8 Juli        = 700 kg x Rp. 800 = Rp. 560.000

Nilai Persediaan Akhir = Rp. 140.000 + Rp. 560.000 = Rp. 700.000

Metode Last In First Out (LIFO)

Metode Last In First Out (LIFO) atau masuk terakhir keluar pertama memiliki aturan bahwa persediaan barang dengan nilai perolehan terakhir akan terlebih dulu digunakan atau dijual. Dengan begitu persediaan akhir bisa dihitung  dan dilaporkan sesuai dengan nilai perolehan persediaan yang pertama dibeli atau masuk.

Baca Juga:  √ Pengertian BUMN, Fungsi, Contoh, Tujuan, Ciri dan Kelebihan

Persediaan awal        = 200 kg x Rp. 500 = Rp. 100.000

Pembelian 8 Juli        = 700 kg x Rp. 800 = Rp. 560.000

Nilai Persediaan Akhir = Rp. 100.000 + Rp. 560.000 = Rp. 660.000

Metode Persediaan Dasar

Persediaan dasar adalah penetapan jumlah kuantitas dan harga satuan mininum persediaan yang harus dimiliki setiap waktu. Nilai persediaan akhir periode diperoleh dengan cara :

  1. Apabila jumlah lebih besar dari jumlah persediaan dasar, maka nilai persediaan ialah nilai persediaan dasar ditambah harga pasar kelebihannya.

Nilai Persediaan = Nilai persediaan dasar harga pasar kelebihannya

  1. Apabila jumlah lebih kecil dibandingkan jumlah persediaan dasar, maka nilai persediaan ialah nilai persediaan dasar dikurang harga pasar kekurangannya.

Nilai Persediaan = Nilai persediaan dasar harga pasar kekurangannya

Persediaan dasar                  = 200 kg x Rp. 500 = Rp. 100.000

Harga rata-rata sederhana  = 100 kg x Rp. 500 = Rp. 500.000

Nilai Persediaan Akhir          = Rp. 100.000 = Rp. 500.000 = Rp. 600.000

Sekian penjelasan materi Pengertian Persediaan Barang Menurut Para Ahli & Contohnya. Terima kasih sudah membaca artikel kami. Semoga artikel    tersebut memberikan tambahan pengetahuan bagi para pembaca. 🙂