√ Bahasa Jurnalistik Televisi, Karakter, Kalimat & Penulisan

Posted on

Bahasa Jurnalistik Televisi, Karakter, Kalimat & Penulisan ­– Menulis sebuah naskah yang akan disiarkan melalui televisi berarti menulis sesuatu untuk didengarkan sehingga penyiar harus mampu menarik perhatian pemirsa.

Bahasa Jurnalistik Televisi, Karakter, Kalimat & Penulisan

Dan juga dapat menciptakan suasana yang membuat pemirsa merasa sebagai bagian dari kejadian yang sedang disampaikan.

Bahasa Jurnalistik

Bahasa yang digunakan dalam siaran televisi adalah bahasa tutur sebab hubungan penyiar dan pemirsa ialah hubungan antara pembicara dan pendengarnya. Hubungan keduanya tidak interaktif (kecuali program yang secara khusus menwarkan layanan interaktif) sehingga pemirsa tidak dapat mendengar kembali informasi yang telah disampaikan.

Dalam memahami bahasa jurnalistik televisi, konteks merupakan hal yang harus diperhatikan. Kata-kata yang akan digunakan perlu disesuaikan dengan konteks situasi. Salah satu karakteristik bahasa jurnalistik televisi adalah pilihan kata yang digunakan mengikuti konteks.

Pada tingkat tertentu, prinsip-prinsip bahasa jurnalistik akan sangat sesuai dengan prinsip-prinsip bahasa Indonesia yang baku.

Tak jarang ditemui bahasa asing yang digunakan dalam beberapa judul atau nama program yang merupakan bagian dari menyesuaikan konteks. Sedikitnya, terdapat tiga hal kontekstual dalam hal ini, yaitu :

  1. Ilmu jurnalistik yang dipellajari di Indonesia umumnya bersumber dari Amerika yang menggunakan bahasa Inggris sehingga banyak istilah berbahasa Inggris yang ditemui dalam jurnalistik televisi, baik istilah teknis maupun posisi (jabatan).
  2. Judul atau nama program yang menggunakan bahasa Inggris cenderung lebih mudah diingat dan menarik. Para praktisi mdia beranggapan bahwa penggunaan bahasa asing untuk judul atau nama program sebagai sesuatu yang wajar.
  3. Bahasa asing yang digunakan sebagai judul atau nama program terkadang belum ditemukan persamaannya, seperti istilah “breaking news” belum ditemukan padanannya yang tepat hingga saat ini.

Stasiun televisi memberikan pelatihan penulisan berita kepada para jurnalis secara berkala dengan tujuan untuk meningkatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar (baku). Bahkan stasiun-stasiun televisi kemungkinan sudah mempunyai buku pedoman penulisan berita televisi (style book).

Baca Juga:  √ Pengertian Menyimak Menurut Para Ahli, Faktor & Keterampilan

Keputusan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tahun 2004 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran wajib dipenuhi dengan upaya peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Seharusnya, berita-berita televisi sudah mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagaimana regulasi yang berlaku.

Karakteristik Bahasa Jurnalistik Televisi Menurut Para Ahli

Para ahli memberikan pendapatnya sebagai berikut;

Melvin Mencher

Dalam buku “News Reporting and Writing” Melvin Mencher menuliskan beberapa karakteristik dalam jurnalistik televisi sebagai berikut.

  1. Menggunakan bahasa sehari-hari
  2. Menggunakan kalimat-kalimat yang pendek
  3. Menghindari susunan kalimat yang terbalik
  4. Sebaiknya menggunakan kalimat yang subjek dan predikatnya berdekatan

Suwardi Idris

Suwardi Idris mencoba merumuskan karakteristik bahasa jurnalistik televisi sebagaimana dituliskan dalam buku “Jurnalistik Televisi”, yaitu :

  1. Menggunakan bahasa yang sederhana
  2. Tidak mencampurkan bahasa asing atau kata-kata yang belum lazim dikenal pemirsa
  3. Menggunakan kalimat-kalimat pendek
  4. Lugas (langsung pada sasaran)
  5. Menggunakan bahasa yang efektif
  6. Tidak menggunakan kalimat yang terbalik
  7. Menggunakan kalimat yang berdekatan subjek dan predikatnya

Haris Sumadiria

Kemudian, Haris Sumadiria pun mengajukan sejulah karakteristik bahasa jurnalistik televisi melalui sebuah buku berjudul “Bahasa Jurnalistk”. Karakteristik tersebut, yaitu :

  1. Mengguakan gaya bahasa yang ringan dan sederhana
  2. Menggunakan prinsip penghematan kata
  3. Menggunakan ungkapan-ungkapan atau kalimat pendek
  4. Menggunakan kata-kata yang sederhana
  5. Menggunakan kata-kata yang sesuai dengan konteks
  6. Tidak menggunakan ungkapan yang berlebihan
  7. Tidak menggunakan kalimat yang bernada ungkapan klise dan eufemisme
  8. Menggunakan bahasa tutur
  9. Menggunakan kalimat objektif
  10. Tidak mengulang informasi
  11. Menguji kembali beberapa istilah yang akan digunakan
  12. Menggunakan kalimat aktif
  13. Tidak menggunakan atau menyebutkan informasi angka terlalu banyak
  14. Teliti ketika menyampaikan hal-hal berupa angka, seperti jumlah korban

Hall

Kemudian, Hall dalam sebuah buku dengan judul “Broadccast Journalism” (1971) menyampaikan karakteristik bahasa jurnalistik, yakni :

  1. Menggunakan gaya bahasa percakapan
  2. Menggunakan kalimat pendek dan bahasa lugas
  3. Menghindari susunan kalimat terbalik
  4. Menyusun kalimat yang meletakkan subjek dan predikat berdekatan

Suasana yang ingin diciptakan ialah konteks yang terjadi ketika seseorang sedang beragi informasi kepada temannya yang tidak bersifat menggurui. Ada beberapa syarat yang sebaiknya dipertimbangkan untuk dapat menciptakan susana tersebut, antara lain :

  1. Membuat alur berita yang akurat, saling terkait, wajar dan seksama.
  2. Menggunakan kalimat pernyataan dengan kalimat pendek berbentuk aktif dan masuk akal (logis) serta beri jeda agar informasi yang disampaikan menjadi jelas.
  3. Menggunakan bahasa semiformal
  4. Menggunakan kata-kata yang umum didengar pemirsa sehingga pemirsa dapat mengikuti berita dengan baik dan tidak merasa sedang digurui.
  5. Menyebutkan nama tokoh berikut gelar dan jabatan (jika ada) dengan jelas dan benar.
  6. Tidak mengungkapkan pernyataan yang mengandung opini atau terkesan memihak.
  7. Menyebutkan waktu (hari, tanggal, bulan, tahun, jam) dengan gamblang. Sebaiknya tidak menggunakan kata keterangan waktu yang signifikan, seperti kemarin, lusa, besok dan sebagainya.
  8. Mencantumkan sumber informasi jika mengutip informasi (tidak mendapatkan sendiri informasi yang disampaikan).
Baca Juga:  √ 6 Tingkatan Proses Komunikasi Menurut Para Ahli & Contohnya

Ragam Bahasa Semiformal

Seorang penulis naskah berita televisi harus mampu mengandaikan ia sedang berbicara kepada orang lain mengenai suatu kejadian agar mampu menuliskan naskah berita dengan bahasa tutur sehingga bahasa yang digunakan tidak terlalu formal.

Sebab bahasa yang formal akan cenderung membosankan bagi pemirsa, begitu pula dengan bahasa non-formal yang membuat penyebaran berita terbatas pada kelas tertentu. Ragam bahasa televisi ialah ragam bahasa standar yang dapat dikenali dengan hal-hal di bawah ini.

  1. Mengunakan kalimat yang tidak lengkap
  2. Menggunakan bahasa lisan, misalnya tapi, cuma, bisa dan lainnya
  3. Mengilangkaan penggunaan konjungsi dan preposisi pada bagian-bagian tertentu, contohnya memberi jeda untuk menggantikan kojungsi
  4. Paragraf diperbolehkan hanya terdiri dari satu kalimat

Kalimat Pendek, Aktif dan Logis

Ada sebuah idiom terkenal dalam dunia jurnalistik, yatiu “KISS” (Keep It Short and Simple) yang artinya bahasa jurnalitik harus pendk dan jelas. Idiom tersebut juga diterapkan dalam siaran berita. Semakin sederhana dan pendek sebuah kalimat, maka semakin jelas berita jika tetap terpadu.

Sebuah kalimat dikatakan sebagai kalimat pendek jika tidak lebih dari dari 20 kata dengan menggunakan kalimat sederhana. Apabila harus menggunakan kata asing sebaiknya menyertakan penjelasannya untuk memberikan pemahaman.

Kalimat pendek cenderung lebih mudah dipahami daripada kalimat panjang. Saat pemirsa tidak memahami berita, maka akan berlalu begitu saja karena berita tidak dapat diulang. Kalimat panjang akan membuat alur berita menjadi lambat dan tidak efektif serta efisien.

Ketepatan (Accuracy)

Penulisan berita haruslah tepat sebab informasi yang disampaikan harus dapat dipertanggungjawabkan dan tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Berita adalah fakta yang disampaikan, bukan sebbuah hal imajiner.

Tidak mengandung opini penulis atau penyiar berita atau pihak media, harus objektif. Penyiar hanya bertugas sebagai penyampai berita. Selain itu, sumber berita yang tidak mempunyai hubungan dengan suatu kejadian tidak perlu dimintai keterangannya atau dilbatkan karena hal itu akan membuat berita menjadi tidak akurat.

Baca Juga:  √ Pengertian Komunikasi Bisnis Menurut Para Ahli & Unsurnya
Bahasa Jurnalistik Televisi Beserta Karakter, Kalimat Dan Tata Cara Penulisan Narasi Lengkap
Bahasa Jurnalistik Televisi Beserta Karakter, Kalimat Dan Tata Cara Penulisan Narasi Lengkap

Singkat (Brevity)

Berita yang baik jika ditulis atau disampaikan dengan singkat agar efektif dan efisien. Tidak perlu menggunakan kata yang berlebih jika ketidakhadiran kata-kata tersebut tidak mengubah makna dari kalimat yang akan disampaikan.

Kejelasan (Clarity)

Kalimat-kalimat harus disusun dengan teratur antara subjek, predikat, objek dan keterangan. Penyusunan unsur-unsur kalimat yang tidak braturan hanyak akan membuat kalimat rancu dan membingungkan pemirsa.

Sederhana (Simple)

Pemirsa televisi bersifat heterogen dalam hal pengetahuan, usia, jenis kelamin, busada, sosial, ekonomi dan sebagainya sebagai hasil dari luasnya jangkauan media televisi. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan sebaiknya bahasa yang sederhana.

Terpercaya (Sincerity)

Berita disusun berdasarkan fakta-fakta yang ditemui di lapangan. Sumber-sumber berita yang memberikan keterangan harus terkait atau ahli dalam bidangnya, seperti pelaku, korban, saksi, pihak kepolisian, tim otopsi, dan lain-lain.

Keterangan yang diperoleh harus berimbang dengan cara dikonfirmasikan kepada pihak lain yang juga terlibat atau ahli. Akurasi dan objektivitas berita harus dijunjung tinggi agar tidak menyalahi aturan yang ada.

Tata Cara Penulisan Narasi Berita Televisi

Tata cara penulisan narasi berita televisi berkaitan dengan hal-hal teknis sebab penyiar akan membaca berita yang tertulis di telepromter (layar berisi narasi). Telepromter biasanya terletak satu meter dari penyiar. berikut tata cara penulisan narasi berita televisi.

  1. Menggunakan huruf kapital
  2. Tanda baca titik (.) diganti dengan dua garis miring (//) dan tanda koma (,) diganti dengan satu garis miring (/)
  3. Angka ditulis dengan huruf, seperti 11 ditulis menjadi “sebelas” atau gabungan angka dengan huruf, misalnya 5.000.000 ditulis menjadi 5 juta
  4. Huruf-huruf yang merupakan singkatan diberi tanda hubung, misalnya MPR menjadi M-P-R. Gelar akademis dituli dengan lengkap tanpa singkatan, seperti PROF Ditulis dengan PROFESOR. Kemudian, penulisan mata uang sebaiknya tidak disingkat, contohnya RP 500 ditulis menjadi 500 RIBU RUPIAH.

Demikian penjelasan materi tentang Bahasa Jurnalistik Televisi, Karakter, Kalimat Dan Penulisan oleh pustakaindo. Semoga materi yang telah disampaikan dapat bermanfaat bagi pengetahuan pembaca. Terima kasih 🙂